ERKAEL NEWS - JAKARTA --- Penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh pasukan Amerika Serikat (AS) dalam operasi militer skala besar pada awal Januari 2026 telah mengguncang tatanan geopolitik di Amerika Latin dan memicu reaksi keras dari China serta negara-negara lain di dunia. Langkah Washington itu dikhawatirkan dapat mereduksi pengaruh Beijing di kawasan dan memperburuk ketegangan strategis global.
Operasi militer yang membawa Maduro dan istrinya Cilia Flores ke AS terjadi pada Sabtu dini hari, 3 Januari 2026, di ibu kota Caracas. Maduro ditangkap dan diterbangkan ke New York untuk menghadapi dakwaan pidana federal, termasuk tuduhan terlibat dalam jaringan narkoba internasional dan konspirasi impor kokain, tuduhan yang dibantah oleh dirinya dan tim hukumnya.
China Kecam, Sebut Penangkapan Langgar Kedaulatan
Respons Beijing terhadap tindakan AS datang melalui pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri China, yang menyebut proses hukum dan penahanan Maduro oleh AS sebagai tindakan yang tidak sah dan melanggar kedaulatan Venezuela. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China menyatakan bahwa Washington mengabaikan status kepala negara Maduro dan secara terang-terangan menghadapkan dirinya di sistem peradilan domestik AS, sesuatu yang dinilai China sebagai pelanggaran berat terhadap hukum internasional.
“Amerika Serikat mengabaikan status kepala negara Presiden Maduro… secara serius melanggar kedaulatan nasional Venezuela dan mendestabilisasi hubungan internasional,” ujar Mao Ning, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Selasa (6/1/2026) di Beijing.
China juga mendesak AS untuk segera membebaskan Maduro dan Flores, serta menekankan bahwa penyelesaian isu tersebut seharusnya dilakukan melalui dialog hukum dan diplomatik, bukan intervensi militer. Pernyataan Beijing menunjukkan kekhawatiran atas potensi gangguan aliran minyak dari Venezuela serta ancaman terhadap pengaruh strategis China di Amerika Latin.
Kepentingan Ekonomi dan Diplomasi China di Amerika Latin
Venezuela selama ini menjadi mitra penting China dalam berbagai proyek infrastruktur dan energi, termasuk investasi besar-besaran dalam fasilitas pelabuhan, jalan, serta pengembangan sektor energi. Minyak Venezuela juga menjadi salah satu sumber pasokan penting bagi China, yang selama ini menjadi pembeli minyak mentah terbesar dari negara Amerika Selatan itu — menyumbang porsi signifikan dalam ekspor Venezuela.
Para analis menilai, dengan jatuhnya Maduro, investasi China berisiko mengalami gangguan. Ketergantungan Beijing terhadap hubungan minyak dan ekonomi di Amerika Latin kini dipandang rentan terhadap pergeseran geopolitik yang digerakkan oleh Washington. Beberapa pengamat juga melihat penangkapan ini sebagai bagian dari strategi Washington untuk memutus hubungan pasokan energi Rusia dan China dari region tersebut.
Reaksi Internasional Lainnya dan Kekhawatiran Legalitas Operasi
Penangkapan Maduro juga memicu kecaman dari berbagai pihak internasional. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) António Guterres menyatakan keprihatinan atas penggunaan kekuatan militer dalam operasi yang dianggap sebagai “pelanggaran prinsip non-intervensi” dan menekankan pentingnya penyelesaian melalui hukum internasional.
Beberapa komunitas dan blok regional, termasuk negara-negara Karibia melalui CARICOM, mengingatkan bahwa tindakan itu bisa mengikis prinsip kedaulatan negara dan memicu ketidakstabilan lebih luas di kawasan. Pernyataan para pemimpin Afrika dan Karibia tersebut menekankan pentingnya dialog dan hukum internasional dalam menyelesaikan konflik seperti ini.
Dampak pada Stabilitas Regional dan Pengaruh China
Para pengamat geopolitik mengatakan bahwa operasi AS di Venezuela, termasuk penangkapan Maduro, bukan hanya soal hukum pidana atau perang narkoba, tetapi juga refleksi dari persaingan global besar antara Amerika Serikat dan China. Penangkapan tersebut dinilai sebagai upaya Washington untuk mempertegas dominasi di belahan bumi barat sekaligus menekan peran lawan-lawan strategisnya.
Sementara peluang bagi China untuk menjaga pengaruhnya tetap kuat masih ada, Beijing kini ditantang untuk merumuskan strategi diplomasi baru yang dapat mempertahankan hubungan ekonominya dengan negara-negara Amerika Latin tanpa bergantung sepenuhnya pada figur politik tertentu.

