ERKAEL.com - SOLO --- Dua tokoh yang sebelumnya terseret dalam kasus dugaan fitnah ijazah palsu Presiden ke-7 Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi), yakni Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis, mendatangi kediaman pribadi Jokowi di Solo, Jawa Tengah, Kamis (8/1/2026) sore. Pertemuan yang berlangsung tertutup tersebut segera memicu perhatian publik dan memunculkan beragam spekulasi politik maupun hukum.
Kehadiran Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis dibenarkan oleh ajudan pribadi Jokowi, Kompol Syarif Muhammad Fitriansyah. Saat ditemui wartawan di sekitar kediaman Jokowi pada Jumat (9/1/2026), Syarif mengonfirmasi bahwa pertemuan memang terjadi, meski enggan merinci substansi pembicaraan.
“Ya, benar. Pak Eggi Sudjana datang kemarin sore bersama beberapa orang,” ujar Syarif singkat.
Ia menegaskan bahwa pertemuan tersebut bersifat pribadi dan tidak termasuk dalam agenda resmi Jokowi. “Pertemuan dilakukan secara tertutup. Tidak ada agenda resmi yang kami sampaikan ke publik,” tambahnya.
Pantauan di lapangan menunjukkan pengamanan di sekitar kediaman Jokowi diperketat sejak Kamis sore. Sejumlah personel kepolisian berjaga di titik-titik akses menuju kawasan Jalan Kutai Utara, Mangkunegaran, Solo. Arus lalu lintas sempat dibatasi dan warga diminta tidak melintas mendekati lokasi.
Seorang petugas keamanan yang enggan disebutkan namanya mengatakan, sterilisasi kawasan dilakukan sebagai bagian dari prosedur standar pengamanan tamu penting.
“Pengamanan dilakukan sejak sekitar pukul 15.30 WIB sampai menjelang Maghrib. Ini murni langkah pengamanan,” ujarnya.
Meski demikian, aktivitas warga di sekitar lokasi kembali normal setelah rombongan tamu meninggalkan kediaman Jokowi pada petang hari.
Kunjungan Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis ini tidak bisa dilepaskan dari latar belakang kasus hukum yang sempat menjerat keduanya. Pada 2025 lalu, Polda Metro Jaya menetapkan sejumlah pihak sebagai tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik dan penyebaran informasi bohong terkait tudingan ijazah palsu Jokowi.
Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis termasuk dalam klaster tersangka yang dijerat pasal penghasutan dan penyebaran informasi yang dinilai menyesatkan publik. Tuduhan tersebut berawal dari narasi yang beredar luas di media sosial, mempertanyakan keabsahan ijazah Jokowi dari Universitas Gadjah Mada (UGM).
Pihak UGM sendiri telah berulang kali menegaskan keaslian ijazah Jokowi. Dalam pernyataan resminya, UGM menyebut seluruh dokumen akademik Jokowi tercatat sah dan sesuai dengan arsip universitas.
“Kami memastikan ijazah tersebut asli dan diterbitkan sesuai prosedur yang berlaku,” kata perwakilan UGM dalam konferensi pers pada 2025 lalu.
Hingga berita ini diturunkan, Jokowi belum memberikan pernyataan resmi terkait maksud dan isi pertemuan tersebut. Tidak diketahui apakah pertemuan itu berkaitan dengan proses hukum yang sedang berjalan, atau murni silaturahmi pribadi.
Eggi Sudjana sebelumnya sempat menulis di media sosial bahwa kunjungannya ke Solo merupakan bentuk silaturahmi. Namun, unggahan tersebut tidak menjelaskan secara detail tujuan pertemuan maupun topik yang dibahas.
Pihak kepolisian juga belum memberikan keterangan tambahan apakah pertemuan ini memiliki implikasi terhadap proses hukum yang menjerat para tersangka kasus fitnah ijazah.
Pengamat politik dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Dr. Andi Wijaya, menilai pertemuan tersebut berpotensi dimaknai sebagai bagian dari dinamika rekonsiliasi politik pasca-Pilpres 2024.
“Jokowi dikenal sebagai figur yang terbuka terhadap dialog. Pertemuan ini bisa dibaca sebagai upaya meredakan ketegangan politik dan sosial setelah konflik panjang soal isu ijazah,” kata Andi.
Namun, ia mengingatkan agar publik tidak terlalu jauh berspekulasi sebelum ada pernyataan resmi dari pihak-pihak terkait. “Selama tidak ada penjelasan terbuka, semua tafsir masih bersifat spekulatif,” ujarnya.
Sementara itu, respons masyarakat sekitar kediaman Jokowi terhadap pertemuan tersebut terbilang minim. Sejumlah warga mengaku tidak terlalu mempermasalahkan kunjungan tersebut selama tidak mengganggu aktivitas sehari-hari.
“Yang penting aman dan tidak ribut,” kata Winarno, warga Mangkunegaran.
Pertemuan tertutup ini menambah daftar dinamika politik pasca-pemerintahan Jokowi yang masih terus menyisakan perhatian publik, terutama terkait upaya penyelesaian konflik politik dan hukum yang sempat memecah opini masyarakat.

