Hidup Zainuddin berubah dalam hitungan detik.
Saat itu tahun 1993, ia belum genap berusia tujuh tahun. Di sebuah stasiun kecil di Cilacap, bocah itu terpeleset dan masuk ke rangkaian kereta yang hendak berangkat. Tidak ada keluarga yang melihat jelas bagaimana kejadiannya. Tidak ada tangan dewasa yang sempat menariknya kembali.
Pintu kereta menutup.
Dan seorang anak hilang dari hidup keluarganya.
Di rumah, sang ibu panik. Ia berlari menyusuri kampung, memanggil nama anak bungsunya tanpa henti. Hari berubah malam, malam berganti minggu. Namun Zainuddin tak pernah kembali.
Tahun-tahun berlalu, tapi satu hal tak pernah ikut pergi: harapan.
Selama 32 tahun, setiap suara kereta yang melintas selalu membuat dada sang ibu sesak. Ada keyakinan samar yang tak pernah bisa ia jelaskan—bahwa suatu hari, anak itu akan pulang.
Sementara itu, ratusan kilometer dari Cilacap, Zainuddin tumbuh sebagai anak tanpa asal-usul. Ia dibesarkan di panti asuhan di Jakarta setelah ditemukan warga dalam kondisi tanpa identitas.
Ia mengingat ketakutan.
Ia mengingat suara besi dan peron dingin.
Namun ingatan tentang rumah, wajah ibu, dan keluarga—semuanya kabur.
Yang tersisa hanya satu potongan memori yang terus menghantuinya: gambaran sebuah stasiun. Tidak utuh, tidak detail, tapi selalu hadir dalam benaknya sejak kecil.
Zainuddin menjalani hidup seperti orang lain. Ia sekolah, bekerja, menikah, dan memiliki anak. Namun setiap malam, satu pertanyaan terus datang:
“Siapa aku sebenarnya?”
Pertanyaan itu akhirnya mendorongnya melakukan hal yang selama ini ia tunda.
Suatu malam, Desember 2025, ia mengambil secarik kertas dan mulai menggambar. Dengan ingatan yang tersisa, ia membuat sketsa stasiun: peron, belokan rel, jalan kecil, dan rumah di dekat lintasan. Itulah satu-satunya petunjuk yang ia punya.
Sketsa itu ia foto dan unggah ke media sosial, disertai satu kalimat sederhana:
“Saya hilang sejak kecil. Ada yang tahu stasiun ini?”
Ia tidak berharap banyak. Namun respons datang cepat.
Seorang warganet menulis bahwa gambar itu mirip Stasiun Sitinggil, Cilacap. Komentar lain menyebut dusun dan nama keluarga. Hingga satu komentar membuat jantung Zainuddin serasa berhenti berdetak:
“Di sana ada ibu yang kehilangan anaknya puluhan tahun lalu. Ceritanya mirip sekali.”
Tak lama kemudian, Zainuddin terhubung melalui panggilan video dengan keluarga yang disebut netizen. Saat kamera menyala, seorang perempuan tua muncul di layar. Begitu melihat wajah Zainuddin, tubuhnya gemetar hebat.
“Nak… Zainuddin… itu kamu?”
Tangis lebih dulu jatuh sebelum jawaban sempat terucap.
Beberapa hari kemudian, Zainuddin benar-benar pulang ke Cilacap. Ia berdiri di depan rumah sederhana yang asing, namun terasa hangat. Ketika pintu terbuka, ibunya langsung memeluknya erat—pelukan yang tertunda selama 32 tahun.
Tidak ada dialog panjang. Tidak ada kata-kata besar.
Hanya tangis dua manusia yang saling kehilangan terlalu lama.
“Saya yang hilang, Bu,” ucap Zainuddin pelan. “Tapi Tuhan masih kasih jalan pulang.”
Hari itu, keraguan runtuh. Kakak-kakaknya ikut menangis. Tetangga berkerumun. Kisah anak yang hilang puluhan tahun lalu kini berdiri nyata di hadapan mereka.
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Zainuddin tidur di rumah yang seharusnya menjadi tempat pertamanya. Ia menutup mata dengan satu perasaan yang tak pernah ia miliki sebelumnya: lega.
Lega karena akhirnya tahu siapa dirinya.
Lega karena tahu ke mana ia pulang.
Dan lega karena kasih seorang ibu, ternyata mampu menembus waktu selama 32 tahun.

