Apakah kematian Evia Maria Mangolo benar-benar peristiwa tunggal yang berdiri sendiri? Atau justru ujung dari rangkaian panjang kekerasan yang selama ini disembunyikan rapi di balik dinding kampus? Jika memang bunuh diri, mengapa muncul satu nama yang terus berulang dalam cerita sebelum kematiannya: DM?
Kebetulan? Atau petunjuk?
Mengapa seorang mahasiswi, yang masih punya masa depan, menulis surat pengaduan detail hanya beberapa hari sebelum meninggal? Mengapa dalam surat itu ia tidak menulis secara samar, tapi justru menyebut nama, tindakan, waktu, dan relasi kuasa? Jika DM tidak signifikan, mengapa namanya menjadi pusat cerita terakhir Evia?
Dan pertanyaan paling mengganggu: siapa yang menulis surat pengaduan jika ia masih merasa aman?
Surat yang Datang Terlalu Dini Atau Terlalu Terlambat?
Surat Evia tertanggal 16 Desember 2025. Pelecehan terjadi 12 Desember. Evia meninggal tak lama setelah itu. Apakah rentang waktu ini terlalu singkat untuk diabaikan? Atau justru terlalu pas untuk disebut sebab-akibat?
Jika DM memang tidak berperan besar, mengapa trauma Evia mencapai titik ekstrem dalam hitungan hari? Apa yang sebenarnya terjadi di ruang akademik itu? Apa yang diucapkan DM? Apa yang dijanjikan? Apa yang diancamkan?
Mengapa seorang dosen yang seharusnya melindungi—malah menjadi sumber ketakutan?
Dan satu pertanyaan yang jarang ditanyakan dengan jujur: berapa banyak korban yang tidak sempat menulis surat?
Apakah Ini Bentuk Kekerasan yang Paling Sunyi?
Dalam sistem kampus, siapa yang punya kuasa? Mahasiswa atau dosen? Siapa yang menentukan nilai? Kelulusan? Masa depan akademik? Jika relasi ini disalahgunakan, apakah korban masih punya ruang untuk menolak?
Jika seorang dosen meminta sesuatu yang melanggar batas, apakah penolakan benar-benar aman? Atau justru berisiko menghancurkan masa depan korban?
Jika Evia menolak, apa konsekuensinya? Jika ia diam, apa bebannya? Jika ia melapor, siapa yang akan percaya?
Bukankah pertanyaan-pertanyaan ini sendiri sudah cukup untuk menjelaskan tekanan psikologis yang dialami Evia?
Lebam di Tubuh Evia: Pertanyaan yang Tak Pernah Dijawab
Jika ini murni bunuh diri, mengapa ada lebam di tubuh Evia? Dari mana asalnya? Kapan terjadinya? Siapa yang terakhir bersamanya? Mengapa informasi ini justru tenggelam di tengah narasi “depresi”?
Apakah depresi meninggalkan lebam? Apakah trauma psikologis otomatis menciptakan tanda fisik? Atau ada bab cerita yang sengaja dilewati?
Dan jika memang ada kekerasan fisik, mengapa fokus publik dialihkan ke kondisi mental korban, bukan ke lingkungan yang menekannya?
Siapa yang diuntungkan dari narasi “Evia lemah secara mental”?
DM: Satu Nama, Banyak Cerita?
Mengapa setelah kematian Evia, kesaksian alumni lain mulai bermunculan? Mengapa polanya mirip? Mengapa namanya tetap sama?
Apakah ini kebetulan kolektif? Atau akumulasi keberanian setelah satu nyawa melayang?
Jika DM memang bersih, mengapa cerita-cerita ini baru muncul setelah tragedi? Apakah karena sebelumnya tidak ada ruang aman untuk bicara? Atau karena sistem memilih tuli?
Dan pertanyaan paling tajam: berapa lama perilaku ini dibiarkan sebelum akhirnya memakan korban?
Apakah DM Bisa Lepas Tangan Begitu Saja?
Benarkah tanggung jawab hanya berhenti pada “tidak membunuh secara langsung”? Apakah hukum dan moral sesempit itu? Jika seseorang menekan, mengintimidasi, dan merusak mental orang lain hingga mati, apakah ia bisa berkata, “Itu bukan urusan saya”?
Jika dorongan psikologis bisa membunuh, bukankah pelakunya tetap pelaku?
Jika DM tahu posisinya berkuasa, tahu dampak tindakannya, lalu tetap melakukannya, apakah itu bukan kesengajaan?
Dan jika itu kesengajaan, masih pantaskah ia disebut hanya saksi?
Pemecatan DM, Kasus Selesai?
Unima memecat DM. Baik. Tapi cukupkah? Apakah pemecatan menjawab semua pertanyaan tadi? Atau justru menjadi penutup cepat agar kasus tak berkembang lebih jauh?
Jika DM hanya dipecat, lalu apa pesan yang sampai ke publik? Bahwa pelecehan cukup dibayar dengan kehilangan pekerjaan? Bahwa nyawa mahasiswa tidak cukup mahal untuk proses hukum?
Dan pertanyaan yang lebih mengganggu: ke mana DM setelah ini? Kampus lain? Kota lain? Korban lain?
Dan jika negara gagal menuntaskan kasus ini, siapa yang melindungi mahasiswa berikutnya?
Pertanyaan Terakhir yang Tidak Bisa Dijawab Korban
Jika Evia masih hidup, apa yang akan ia ceritakan? Apa yang belum sempat ia tulis? Siapa lagi yang terlibat? Apa yang paling ia takutkan?
Dan pertanyaan paling menyakitkan: apakah Evia masih hidup jika DM tidak pernah ada dalam hidup akademiknya?
Pertanyaan ini mungkin tidak pernah dijawab di pengadilan. Tapi publik berhak menyimpannya. Karena di sanalah inti keadilan diuji, bukan hanya soal siapa yang memegang tali, tapi siapa yang mendorong seseorang ke jurang.
Jika semua pertanyaan ini dibiarkan menggantung, maka kematian Evia bukan akhir cerita. Ia hanya pembuka bab baru tentang bagaimana sistem gagal, kuasa disalahgunakan, dan kebenaran ditunda.
Dan pertanyaan terakhir untuk kita semua:
kalau hari ini kita berhenti bertanya, siapa yang akan mati berikutnya?
(Oleh: Ramli Kalao Lao)
Disclamer: "Artikel ini merupakan opini penulis berdasarkan informasi yang tersedia untuk publik. Pandangan yang disampaikan tidak mewakili sikap redaksi dan tidak dimaksudkan sebagai putusan hukum. Pembaca diharapkan menyikapi isi tulisan secara kritis sesuai ketentuan hukum yang berlaku".

