ERKAEL NEWS - JAKARTA --- Harga emas batangan di pasar domestik terus berada di level sangat tinggi dan kian menegaskan tren mahalnya logam mulia di awal 2026. Bahkan, harga emas saat ini telah melampaui jauh batas psikologis Rp2,9 juta per gram, dengan banderol emas ritel menembus kisaran Rp2,6 juta hingga hampir Rp3 juta per gram di sejumlah produk resmi.
Berdasarkan data perdagangan Senin (19/1/2026), harga emas batangan di Pegadaian untuk berbagai merek utama tercatat stagnan dibandingkan hari sebelumnya, namun tetap bertahan di level premium. Kondisi ini menandakan harga emas masih “mahal tapi kuat”, tanpa koreksi signifikan dalam waktu dekat.
Harga emas Galeri 24 ukuran 1 gram dibanderol Rp2.688.000. Sementara emas UBS 1 gram dipatok Rp2.739.000 per gram. Adapun emas batangan Antam 1 gram dijual dengan harga Rp2.930.000, dan Antam Retro berada di level Rp2.912.000 per gram. Seluruh harga tersebut tercatat tidak mengalami perubahan dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Lonjakan harga ini menunjukkan bahwa level Rp1,9 juta per gram—yang sebelumnya dianggap mahal oleh investor ritel—kini telah dilewati cukup jauh. Dengan harga saat ini yang berada di atas Rp2,6 juta per gram, emas semakin mengukuhkan posisinya sebagai aset lindung nilai (safe haven), terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global dan fluktuasi pasar keuangan.
Dari sisi ketersediaan, Pegadaian melalui Galeri 24 menyediakan emas batangan dalam berbagai ukuran, mulai dari 0,5 gram hingga 1.000 gram. Produk yang ditawarkan mencakup emas Antam, Galeri 24, UBS, serta Antam Retro. Investor juga mempertimbangkan faktor buyback, yang dinilai tetap kompetitif meski harga jual berada di level tinggi.
Pengamat pasar mencatat, stagnannya harga di level tinggi mengindikasikan pasar masih menunggu sentimen baru, baik dari pergerakan harga emas global, kebijakan suku bunga bank sentral, maupun kondisi geopolitik. Selama faktor-faktor tersebut belum berubah signifikan, harga emas diperkirakan tetap bertahan mahal.
Bagi investor, kondisi ini menjadi dilema tersendiri: harga sudah “menggila”, tetapi minat terhadap emas belum surut. Hal ini menunjukkan kepercayaan pasar terhadap emas sebagai instrumen penyimpan nilai jangka panjang masih sangat kuat di awal 2026.

